Jumat, 03 April 2015

Memeluk Jarak Dalam Dekapan Rindu



Dibalik jendela kayu disudut kamar kupandangi jutaan bintang bertaburan rindu di angkasa yang membentang di kota kelahiranmu. Bersama rindu tak terucap ingin kutitipkan salam melalui bulan yang seolah tersenyum manis kepadaku. Apa kabar, lelakiku ? senandung doa terus mengalun mengiringi derap langkahmu meniti masa depan. Tidak kah kau mendengar sayang ? rintihan hati menantimu kembali.
Sepoi angin malam membius memanggilku untuk memutar kali pertama aku menemukanmu. Tepat berselang lima hari dari tanggal kelahiranku kutemui sosok malaikat pengubah hidupku. Dalam sekejap lelaki ini dapat membuatku tersenyum bahagia namun dalam sekejap pula dapat membuatku tersentak dan mengurung hati.
Aku dan dia terpaut jarak puluhan KM. Memang bukanlah jarak yang jauh, atau mungkin banyak yang memendam rindu dalam jarak yang lebih jauh dari jarak yang kumiliki. Yang membedakan hanyalah komunikasi. Jarak puluhan KM serasa seperti ribuan kilometer saat komunikasi hanya berjalan sabtu atau minggu. Bahkan satu bulan hanya sekali berkomunikasi.
Dibilang rindu ? iya, sangat rindu. Di bilang lelah ? bagaimana tidak, jika membawa lari rindu tanpa henti dan tanpa ujung menjadi rutinitas setiap hari. Aku tak pernah menunjukkan rasa lelahku didepan lekakiku, karena aku tau dia juga lelah memperjuangkan masa depannya. Aku harus mengerti kesibukannya. Terlebih aku dengannya sama di didik dalam wadah akademi. Tentu pendidikan adalah penghalang, namun pendidikan ini kelak akan membuahkan kebahagiaan tak terkira.
Setiap kali dia mengeluh aku hanya mampu memberikannya semangat. Kubilang padanya “semangat kapten, setiap kamu lelah ingatlah ada orang tuamu yang ingin melihat anaknya memakai seragam perwira” .  dia tidak pernah mengerti bahwa aku selalu menahan keluhku saat merindu. aku selalu mengatakan bahwa tak usah memaksakan pulang jika memang tak ada libur. Biarlah aku disini mengurung rindu menantimu pulang saat libur panjang.
Lelakiku tak pernah mengerti ada rasa yang meletup ketika dering ponsel menampakkan namamu di layarnya. Sekedar kata “Hy, aku pulang lagi nih” begitu hangat mencairkan hati yang telah lama beku terkurung rindu.  Seutas senyum kecil selalu mengembang di sudut bibirku.  Namun raut kesedihan akan segera muncul ketika akhir pekan merayap mendekat. Katamu, “Aku balik dulu ya, semoga minggu depan libur dan bisa pulang lagi”. Mata ini tak kuat menyiratkan kesedihan yang mendalam. Harus ku kembali menjalani hari-hari tanpamu lagi.
Lelakiku ini juga tak pernah mengerti bahwa ada wanita yang senantiasa menyemangatinya dari pelukan senandung doa panjang ketika aku duduk bersimpuh dihadapanNya.  Dalam doaku kusebut namamu berulang-ulang, kuselipkan doa agar Tuhan segera mempertemukanmu denganku kembali.
Asaku terus bergejolak dalam dada. Kapankah semua ini berakhir dengan sebuah titik indah. Titik dimana laju kapal pesiarmu menurunkan layar dan terhenti disebuah pelabuhan. Dimana jangkarmu akan kau tautkan dan tak pernah kau angkat kembali.
Biarlah jarak menjadi ombak sementara yang mengombang-ambingkan laju perahumu. Ku yakin dengan angin yang berhembus membawa kapalmu, kupercaya Tuhan akan menghadirkanmu dihadapanku. Menghapus segala sesaknya sebuah rindu yang menggerogoti raga. Kupercaya titik temu itu akan segera hadir saat dua buah garis saling berpotongan. Ku yakin kuasaNya akan mengindahkan kisah kita serta terlukis dalam pasir di bibir pantai dan karang akan menghalangi ombak untuk menghapus keindahannya. INSPIRED BY: Sahabat (RARASATI W) yang sedang menunggu sebuah kapal besar membawa kembali kaptennya kepadanya
   

Selasa, 31 Maret 2015

Sehangat Api Unggun Malam Itu



Entah mengapa mengawali itu lebih sulit dari mengakhiri. entah hanya aku yang merasakannya atau semua orang merasa seperti itu. Bahkan untuk mengawali coretan ini aku perlu berfikir bermenit-menit. Hingga kutemukan sebuah topik yang bagiku sangat menggoda untuk di tulis. Bukan tentang persahabatan atau konflik remaja lainnya, ini tentang  kamu. Topik yang tentu saja belum berganti dari coretan-coretanku sebelumnya. Topik tentang kamu yang kusebut sebagai malaikat senja. Juga kamu yang sering kutulis sebagi tuan berbehel.
Entah mengapa topik tentangmu selalu seru, membuat fikiranku jauh lebih mudah bermain-main dengan khayalanku. Kamu seperti topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Kamu tidak seperti soda yang menguap, kamu tidak seperti es batu yang mencair. Kamu awet berada didalam memori otakku  bagaikan makanan yang ditambahkan natrium benzoat. Topik tentangmu seperti kafein pada kopi, seperti theobromin pada coklat yang mebuatku ketagihan untuk memainkan jari-jariku diatas keyboard laptop.
Hari ini akan kubahas lagi tentangmu, malaikat senjaku. Sudah hampir genap satu minggu setelah perjumpaan kita aku bahkan belum pernah melihatmu lagi. Belum pernah memandang senyum manismu lagi. Namun, detik ini entah aku harus berbahagia ataukah aku harus merasa cemas. Aku merasa menjadi gadis paling kikuk sedunia, bagaimana bisa aku berharap malaikat senjaku mengirim sebuah pesan singkat di ponsel ku ? sedari tadi kutunggui, kupandangi layar ponselku. Entah, namamu tak kunjung muncul menghiasi layar ponselku. Apakah kamu sedang sibuk dengan wanitamu wahai malaikatku ?
Aku seorang gadis yang bahkan sangat dibawah garis layak untuk mendampingimu apakah pantas mengharapkanmu ? kamu sangat indah seindah semburat warna jingga dilangit kala senja karena kamulah malaikat senjaku. Apakah mungkin aku yang selama ini hanya memandangi keindahanmu dapat menyentuhmu, bahkan memiliki keindahanmu ? ingin kubawa pulang keindahanmu, pesonamu yang telah lebih dulu terpatri di dalam hatiku. Aku memang seorang gadis yang sama sekali tak layak mengharapkanmu, mungkin jika teman-temanmu gtau mereka akan menertawakanmu. Karena kamu begitu digilai oleh seorang wanita kikuk sepertiku.
Namun betapa tak punya malunya aku, yang terus berusaha memperjuangkan cintaku. Cinta yang hanya tulus untukmu. Mungkin diluar sana banyak gadis yang jauh lebih cantik jika dibandingkan upik abu sepertiku. Namun, kamu perlu berhati-hati dalam memilih wahai malaikat senjaku. Begitu kemilaunya kamu sehingga mengundang banyak mata untuk melirikmu, bahkan memilikimu. Atau mungkin diantara mata-mata yang melirikmu ada yang menjadikanmu sebagai taruhan atas permainannya.
Disini, lihat lah aku ! gadis kikukmu yang setia menjagamu. Mengawasimu dari mereka yang ingin mempermainkanmu, yang ingin menjatuhkan kemilaumu. Disini dibawah rinai hujan yang menari-nari membasahi payung merah jambu akan kutunggui kamu hingga kamu melihatku berdiri tegak diantara kerumunan penggemarmu. Disini aku gadis kikuk yang membawakanmu sebuah sweater hangat dan membawakanmu sebuah payung berwarna jingga. Pergilah bersamaku malaikatku, di sini terlalu dingin untukmu. Akan kubawa kamu menuju tempat terhangat, didepan api unggun yang menghangatkan serta pernah mempertemukan kita sebelumnya.

Rabu, 03 Desember 2014

Percayakah kamu, bahwa cinta itu mengalir layaknya air ?



 Cinta itu tentang melupakan atau dilupakan. Tentang memilih serta dipilih. Seperti lelaki pada umumnya, kamu lebih mudah memilih dan lebih mudah melupakan.  Saat kamu memilih seseorang untuk kamu jadikan tambatan hatimu bukankah kamu perlu mengetahui seluk beluk pilihan hatimu ? apakah dengan cara datang tiba-tiba lalu mengungkapkan seluruh isi hatimu didepan wanitamu itu bukan tindakan bodoh ? cinta tak perlu terburu-buru. Biarkan cinta mengalir layaknya air yang pada masanya akan menemukan sebuah titik untuk bermuara.
Cinta memerlukan proses. Tidak hanya proses seperti yang diungkapkan kebanyakan pujangga, dari mata turun ke hati. Bagiku cinta tidak sesederhana satu ditambah satu samadengan dua. Bukankah kamu dan aku sudah sama-sama dewasa ? bukankah sudah seharusnya cinta kita lebih besar dari cinta monyet ? itulah alasan mengapa aku mengatakan cinta itu tak perlu terburu-buru.
Sejujurnya bukan hanya aku, mungkin banyak atau semua wanita diluar sana lebih suka diperjuangkan. Diperlakukan layaknya seorang puteri. Wanita yang menolakmu atau mungkin tidak memberimu jawaban atas perasaanmu bukan berarti mereka memPHP-kan kamu. Bisa saja mereka sedang menguji seberapa besar cintamu kepada mereka. Kamu tak perlu risau karena sikapnya yang cuek, bukankah kamu pernah mendengar pepatah jika wanita itu jinak-jinak merpati ? semakin kamu kejar wanita itu maka ia akan semakin lari menjauh. Atau mungkin kamu yang terlalu sensitif dalam mengartikan perhatian-perhatian kecil wanitamu itu kamu anggap sebagai sinyal dia akan balik mencintaimu.
Mudah jatuh cinta, iya itu adalah typemu tuan. Belum genap sebulan kamu mengenal wanita yang kamu sebut-sebut sebagai pujaan hatimu lantas mengapa kamu begitu terburu-buru mengungkapkan perasaanmu ? tindakan bodoh yang hanya membuatmu dianggap sebagai lelaki minus yang hanya ingin mendapatkan status berpacaran. Dan ketika kamu sedang berada dalam posisi yang sulit bukan berarti kamu lari menjauh dengan alasan wanita itu tidak menghargai perjuanganmu. Kemudian kamu mencari wanita lain yang katamu lebih bisa menghargai perjuanganmu. Tuan, bukankah itu membuat nilai minusmu semakin bertambah ? bagaimana bisa setelah ditolak seorang gadis dengan begitu cepatnya kamu berpindah kehati yang lain ?
Tuan, hatimu itu bukan warung kopi kan ? lantas cintamu yang sebenarnya untuk siapa ? wanitamu yang lama ataukah yang baru ? kamu tentu tidak mau dianggap lelaki murahan kan Tuan ? dalam tempo yang begitu singkat kamu mampu menjelajahi dua hati wanita. Dan pada akhirnya, bisa dipersepsikan jika cintamu bukan cinta yang sesungguhnya. Kamu hanya mengejar gelar pacar tanpa mengejar kenyamanan sebagaimana yang pernah kamu dakwakan kepada wanita idolamu itu. Terakhir, kuucapkan selamat atas kekasih barumu. Semoga cintamu kepadanya bukan hanya manis di bibirmu. Semoga kenyamanan yang pernah kamu dakwakan kepadaku, kepada wanita yang katanya dulu kamu idolakan itu menjadi milik kekasih barumu.

Minggu, 30 November 2014

Berhenti Mengemis Cintanya


Sebelumnya tak pernah sesesak ini mencintai seseorang. Bahkan rasanya tak pernah semuak ini. Bagaimana bisa kamu menyukai mantan kekasih dari sahabatmu sendiri ? bukankah kamu pernah menjadi salah satu orang yang ikut  bahagia melihat mereka memulai merajut cinta ? dan bukankah kamu pernah menjadi orang yang selalu mendengarkan curhatan sahabatmu tentangnya ? dan bukankah kamu pernah memberinya solusi sebelum akhirnya mereka memutuskan rajutan cinta mereka ?
Lantas pantaskah kamu sekarang menyukai mantan dari sahabatmu ? cinta pada dasarnya memang tidak pernah salah. Cinta tidak bisa memilih kepada siapa dia tertuju. Yang kutahu, cinta tumbuh dari sebuah rasa. Ya, rasa nyaman. Berawal dari curhat yang terselubung. Terkadang terselip rayuan serta buaian manis yang membuatmu seperti diterbangkan hingga langit ketujuh. Kamu tidak mungkin terjatuh jika tidak ada seseorang  yang mampu membuatmu terbang.
Dia adalah salah satu alasan mengapa kamu masih sekuat ini, tersenyum selepas ini di kota orang. Dia adalah salah satu alasanmu menyegarkan kembali pikiranmu ditengah tugas-tugasmu yang menggunung. Dia adalah orang yang selalu menyemangatimu dan menguatkanmu. Tidak ada yang lebih sakit dari mencintai seseorang yang selalu berada tepat disisimu namun kamu tak mampu menjelaskan perasaanmu kepadanya. Tentu saja dengan alasan, dia sahabatku. Atau mungkin, dia mantan kekasih dari sahabatku.
Kamu terlalu tenggelam dengan candaan candaan mesra, iya hanya sebatas candaan. Dia memiliki panggilan kesayangan untukkmu, dan begitu juga sebaliknya dengan kamu. Kamu juga memiliki panggilan kesayangan untuk dia. Namun, nyatanya dia melakukan hal yang sama kepada semua wanita dekatnya. Sakit ? iya tentu saja. Untuk mencemburuinya kamu harus memiliki alasan yang cukup kuat. Kamu siapanya ? kamu dianggap apa ?
Kadang kamu menatap pada langit malam yang bertaburan ribuan bintang yang berkelap-kelip dengan indahnya sembari bertanya kepada bulan “kenapa aku harus  jatuh cinta kepada seseorang yang bahkan hanya menganggapku teman SMA ?” atau bahkan kamu mengingat percakapanmu dengan lelaki itu beberapa minggu yang lalu “aku ini bukan type-mu, kamu selalu menginginkan lelaki sempurna dengan rupa yang rupawan. Hal itu sama sekali tidak ada dalam diriku” dan akupun menjawabnya “aku tidak memerlukan sosok yang rupawan dan sempurna, jika yang sederhana membuat nyaman dan bahagia untuk apa aku harus mencari yang sempurna dan kemudian menyakiti ?” mungkin kata-katamu hanya dia anggap candaan, seperti biasanya.
Bagaimana bisa kata ILOVEYOU yang dibalas dengan ILOVEYOUTOO dianggap sebagai main-main ? bagaimana bisa dia mendakwamu ketika kamu berkata ILOVEYOU itu hanya sebuah candaan ? apakah dia tidak paham betapa teririsnya hatimu ketika dia hanya menganggapmu sekedar teman SMA ? bahkan kamu menginginkan lebih, tapi dia tidak menginginkanmu. Dia telah memiliki kriteria gadis idaman yang tentu saja bukan kamu. Kamu sejauh ini hanya mampu menyimpan tanpa mampu mengungkapkan apa yang didalam hatimu. Sampai kapan ? apakah kamu berharap dia peka dengan membaca tulisan abstrak di dalam blogmu ini ? apakah kamu mau menungguinya hingga habis waktumu ? apakah kamu akan terus mengabaikan lelaki yang mencintaimu demi lelaki yang kamu cintai ?
Entahlah, terkadang aku bingung dengan jalan pikiranmu yang terus menerus seperti anak-anak. Kapan kamu berpikiran dewasa ? kapan kamu sadar bahwa lelaki yang kamu tunggui sama sekali tidak menginginkanmu ? apakah kamu pikir dia yang pagi-pagi kamu telepon kemudian mengantarkanmu ke Rumah Sakit itu lelaki yang tepat untukmu ? berpikirlah, dia sama sekali tidak menginginkanmu. Dia bahkan tidak meluangkan waktunya untuk mengantarkanmu kembali pulang kan ? berhentilah memikirkan lelaki itu ! berhenti, aku bilang berhenti !!! jangan pernah mengharapkannya, jangan pernah. Kamu hanya ditakdirkan untuk mengenalnya tapi tidak untuk memilikinya. Dengarkan aku manis atau mungkin abaikan aku jika kamu menginginkan luka yang lebih mendalam.

Malaikatku, dialah Ibuku


Malaikatku, dialah Ibuku
Betapa aku bersyukur diberi malaikat penjaga seperti Ibu. Malaikat paling cantik yang cintanya tak kan pernah berubah.  Malaikat yang selalu mengusahakan kebahagiaan untuk anaknya. Yang rela berkorban, yang rela sakit hati hanya demi melihat seutas senyum di bibir anaknya.
Aku sangat mengagumi betapa kokoh hatinya dan betapa kuat lengannya untuk merangkul anak semata wayangnya hingga 18tahun. Pernah aku membayangkan betapa indah hidup sendiri kuliah diluar kota tanpa seorang Ibu. Hidup sendiri bebas dari larangan ini dan itu. Tanpa ada suara omelan layaknya radio rusak setiap hari yang memekakan gendang telinga.
Hingga pada akhirnya aku bersyukur Tuhan mengabulkan doaku. Kini aku hidup seorang diri diluar kota. Kuliah di sebuah sekolah kesehatan yang nantinya Ibu harap aku bisa mengabdi pada negeri. Menyelamatkan banyak nyawa dan menjadi wanita yang di elu-elukan masyarakat. Merasakan pangkat derajat yang lebih tinggi darinya. Menjadi seorang wanita yang dihormati, tidak sepertinya yang menjadi cibiran orang. Iya benar karena ibuku telah lama hidup sendiri. Berdua hanya denganku. Ayahku ? Dimana ? Entahlah, kurasa keluargaku kurang begitu harmonis semenjak Tambak Ikan ayahku tenggelam oleh lumpur Lapindo beberapa tahun silam. Semua hal indah di dalam rumah kurasa sirna. Terkadang aku merasa iri dengan teman-teman yang dengan bangga menceritakan tentang ayah dan ibunya. Tentang betapa kompaknya keluarganya. Tapi bagaimana lagi, semua orang pasti diciptakan dengan segala perbedaan. Dan semua orang diciptakan memiliki takdir dan nasib yang berbeda-beda.
Mungkin takdirku hidup tanpa orang tua yang utuh. Setidaknya aku harus bersyukur karena aku masih dapat melihat mereka kapanpun aku ingin melihat ayah ataupun ibuku. Walaupun tidak dalam sebuah rumah yang sama lagi. Mungkin hal ini yang membuatku dulu begitu bersemangat untuk pergi kuliah diluar kota. Ya, ingin bebas mencari kebahagiaan serta melupakan semua kenangan-kenangan pahit di kota kelahiranku.
Beberapa hari pertama aku merasa nyaman di kota ku yang baru, tinggal bersama dengan teman-teman baru di dalam sebuah rumah kos sederhana. Tidur mandi makan sesukaku tanpa ada yang mengatur. Kupikir, inilah hidup. Namun ternyata semua tak seindah yang kubayangkan. Hidup seorang diri tidak semudah apa yang kupikirkan. Bahkan ketika sakit karena telat makan datang menyerang lambung tidak ada lagi suara berisik yang ngomel disampingku. Bagaimana bisa suara berisik yang dahulu amat kubenci dapat begitu kurindukan sekarang ?
Pernah suatu pagi, ketika mentari baru saja menampakkan sinarnya bulir kristal mataku menetes. Iya, teringat malaikatku itu lagi. Biasanya sepagi ini aku belum bangun, masih terjaga diranjang tidur dalam sebuah kamar hijau muda dengan hiasan bunga bunga di dindingnya. Memainkan ponsel dan  hanya mencium aroma lezat seorang malaikat yang tengah memasak sarapan dan bekal untuk putrinya. Sekarang ? tidak ada lagi yang memasakkan sarapan. Semua serba sendiri. Dulu kubayangkan betapa enak tidur hingga siang tanpa ada yang membangunkan. Namun nyatanya, jika rasa malas menyerang lantas yang masak sarapan untukku siapa ? jika tidak ada yang memasak, lantas jika aku sakit lagi siapa yang merawat ?
Jika petang menjelang, matahari pun menghilang dan digantikan oleh bulan bintang yang bersinar dalam gelapnya malam. Aku berfikir “apakah yang sedang dilakukan malaikatku sekarang ?” . Kulitnya yang makin keriput pasti juga menurunkan staminanya. Maafkan putrimu yang membiarkanmu kesepian seorang diri di dalam rumah mungil diujung desa.
Ketika rindu mulai mendayu, ketika air mata dan tengadah tangan diakhir sujud lima waktuku yang mampu berbicara. Ketika lisan tak mampu mengungkapkan betapa rindu ini mengganggu tidurku. Ingin ku peluk erat malaikatku dan kukatakan, aku hanya ingin dirumah ini. Sejauh apapun kaki melangkah pergi, ditempat semewah apapun merebahkan diri tak akan pernah menggantikan rasa nyaman seperti berada dalam rumah sendiri. Didalam istana kecil yang didalamnya terdapat cinta seorang malaikat tak bersayap yang tiada habisnya. Ibu, aku merindukanmu. Ibu, aku ingin bertemu. Ingin kuhapus ratusan kilometer yang memisahkan raga kita. Really loving you, miss you Mommy .

Sabtu, 08 November 2014

JIKA MEMBUATMU NYAMAN SAJA AKU TAK BISA

Mata ini semakin berat, padahal baru memasuki pukul 9 pagi. Entah bagaimana bisa kuliah hari ini begitu membosankan. Rasanya ingin aku segera menenggelamkan kepalaku diantara bantal bantal di atas ranjang spons yang empuk.

Semalaman aku menungguimu membalas chatku hingga larut hingga akhirnya tertidur. Kamu tidak pernah tahu betapa bahagia hati ini ketika namamu muncul di dalam roomchat BBM ? dengan sangat bersemangat aku selalu membalas chatmu. Sesegera mungkin aku membalasnya agar kamu tidak merasakan betapa muaknya menunggu sebuah chat balasan seperti muakku ketika menunggumu menulis pesan. Begitu Lama. Mungkin kamu lebih asyik membalas chat dari wanita wanitamu. Mungkin mereka lebih bisa membuatmu nyaman, tidak sepertiku yang hanya bisa membuatmu merasa sangat risih.

Mungkin setelah kamu membaca tulisanku ini kamu berpikir bahwa aku sedang mencemburui mu kan sayang ? Tidak, aku tidak mencemburuimu. Aku cukup tahu diri, siapa aku dimatamu ? iya kamu benar sayang, aku hanya temanmu dan lebih tepatnya salah satu teman wanitamu.

Aku sadar diri kok selama ini. Aku hanya membuatmu risih. Hidupmu yang tenang terusik dengan hadirku. Mungkin kamu begitu risih dengan permintaan dan rengekan konyolku. Namun aku ingin kamu tahu, aku meminta aku merengek semata mata hanya karena aku ingin selalu berada di dekatmu. Berada disampingmu, memegang erat tanganmu tanpa menghiraukan batasan antara kita yang hanya 'Teman Main'.

Mungkin selama ini kamu merasa sungkan menyanggah permintaanku, hingga dengan terpaksa kamu menuruti kemauanku. Maafkan aku sayang. dengan sikapmu yang cuek dan dingin, aku tau kamu begitu muak dan aku tau kamu menghindariku.

Boleh kok sayang kamu hanya membaca chatku, bahkan tanda 'R' dalam pesan singkat itu tidak cukup untuk melukaiku hingga berdarah-darah. Hanya sedikit menimbulkan sesak dan perih dalam dada.

Kamu tidak perlu meminta maaf sayang, semua ini aku yang salah. Ku pikir kamu mencintaiku, sama dengan apa yang aku rasakan selama ini. Iya, aku mencintaimu. Pasti kamu pernah dengar aku berkata seperti itu dan pasti kamu hanya menganggapnya candaan.

Tidak sayang, aku kali ini tidak sedang bercanda. Aku mencintaimu. Mungkin aku jauh dari wanita idolamu. aku tidak cantik, tidak seksi dan tidak pandai berdandan. Namun bukankah cinta seharusnya mengabaikan itu semua ? Ketahuilah sayang, Sangat dalam aku ingin memilikimu, menyentuhmu. Namun bisa apa ? jika membuatmu nyaman saja aku tak bisa ? :')

MY ACNE STORY PART 3 || SKINCARE ROUTINE UNTUK WAJAH BERJERAWAT

Waaa, panjang banget ya ceritanya ngelawan jerawat wkwk udah sampe part 3 segala. Ini mungkin adalah akibat dari aku yang dulu awal puberty...